Pacaran dengan Duda Punya Anak

Beberapa tahun yang lalu, saat saya mulai dekat dengan Papi-nya Luna, saya mulai mengenal anak tiri saya sekarang, Julia. Dia blasteran Jerman dan Jepang dan tinggal bersama dengan Ibu-nya di Tokyo. Umurnya masih sangat muda, sekitar 5 tahun. Rambutnya panjang, pintar, cantik dan sedikit pemalu.

DSC00595Seingat saya, saya bukanlah tipe yang terlalu suka anak kecil apalagi anak bayi. Karena mereka suka nangis tanpa alasan, suka manja, suka cari perhatian. Tapi memang ada beberapa anak-anak yang memang menarik perhatian saya dan membuat saya betah berlama-lama. Salah satunya Julia. Si cantik Julia memang terkadang tidak mudah. Terkadang menangis di tempat umum karena Papi nya tidak menuruti kehendaknya. Buat saya yang waktu itu masih single dan tidak punya anak, kaget juga ya. Pikir saya, ohhhh.. begini rasanya kalau punya anak.

Awalnya saya super stress. Aduh, gimana bikin anak ini diam kalau lagi menangis ya. Lama kelamaan setelah saya lihat pola nya, saya menyadari bahwa setiap dia menangis, dia ingin diperhatikan oleh Papi-nya. Mungkin karena dia tidak bertemu Papi-nya sesering dia bertemu dengan Mommy-nya. Lalu sejak itu, setiap dia menangis, saya dekati dia, saya berjongkok agar wajah saya berhadapan dengan dia. Saya bilang, “Sayang, kalau kamu menangis, Moony dan Papi tidak mengerti bahasa kamu. Coba tenang dulu dan bilang sama Moony, apa yang kamu mau?” atau “Sayang, kalau menangis belum tentu Moony dan Papi memberikan apa yang kamu mau. Tapi kalau kamu minta tanpa menangis. Mungkin kita bisa biacarakan”.

Hasilnya, 2-4 kali setelah saya berkata seperti itu. Julia tidak pernah menangis lagi di depan umum.

Kok kedengarannya gampang? Mana susahnya?

Saya jamin susah. Susah nya bukan karena anaknya. Karena kita sendiri kok. Kan bagaimana pun juga, anak-anak masih anak-anak. Terkadang kita sendiri yang memberikan batasan-batasan sehingga kita tidak bisa membuka hati kita terhadap anak-anak tersebut. Ekspektasi nya tinggi, anak-anaknya yang harus mengerti kita, anak-anaknya yang harus mengalah. Pertanyaannya, kita siapa? Kok minta anak-anak itu mengerti kita?

Mereka adalah anak papanya. Mereka adalah darah daging papanya. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya walaupun mereka sudah tidak lagi bersama.

Singkat cerita, kalau cinta sama bapaknya, cintailah anaknya. Kita yang harusnya mengerti mereka, kita yang harus mengalah, kita yang memberikan kasih sayang extra buat mereka.

Nah, sekarang siap tidak punya pacar duda yang sudah punya anak? Silahkan di jawab dulu check list di bawah ini.

Check list pacaran dengan duda yang punya anak:

  • Mau main-main atau serius?
    • Main-main: mending gak usah, bikin hati capek dan energi banyak yang terbuang. Masih banyak laki-laki single di luar sana
    • Serius: Belajar untuk mencintai semua yang berhubungan dengan dia, termasuk mantan istri, anak, hobby, orang tua, kerjaan, dll.
  • Apakah kamu suka anak-anak? Atau siap menyukai anak-anak?
  • Apakah kamu tau cara mengurus anak?
  • Apakah kamu siap di benci oleh anak-anaknya?  Gak semua anak-anak pacar kita bakalan suka dengan kita loh
  • Apakah saat kamu nanti punya anak sendiri, kamu ragu membagi kasih sayang antara anak kandung dan anak tiri?
  • Kenapa dia bercerai? Yang namanya perceraian pasti ada kontribusi dari dua belah pihak. Belajar jadi detektif untuk tau kenapa rumah tangganya gagal.
  • Apakah kamu siap mantan istrinya akan mencoba membuat image kamu jelek didepan anak-anak

Nah, inilah kenyataan. Siap menghadapinya?

Note:

This blog post is dedicated to Julia. Moony LOVES you SOOOOO MUCH!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s